Rabu, 02 Juni 2010

Tingkatkan Daya Saing dengan Pendidikan

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) memprediksikan jumlah siswa yang mengikuti pendidikan tinggi akan meningkat secara signifikan pada 2012 mendatang. Berdasarkan data DIkti, jumlah mahasiswa pada 1975 sebanyak 230 ribu orang dan naik menjadi 4,6 juta mahasiswa pada 2009. Jumlah ini menyebar pada 83 PTN dan 2.928 PTS di Indonesia.

Prediksi ini disampaikan Sekretaris Dewan Pendidikan Tinggi Ditjen Dikti Kementerian Pendidikan Nasional Prof Ir Nizam, MSc, PhD dalam kegiatan Sosialisasi Kerjasama Internasional Bidang Pendidikan di Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang beberapa
waktu lalu.

Menurut Nizam jumlah tersebut masih sangat rendah, yaitu sekira 5,5 persen saja jika dibandingkan dengan negara lain, misalnya China yang 18 persen penduduknya mengenyam pendidikan tinggi. Demikian dikutip dari situs Unibraw di Jakarta, Rabu (2/6/2010).

"Hal inilah yang menjadi penyebab rendahnya daya saing Indonesia di tingkat internasional," ujar Nizam. Lebih lanjut Nizam menjelaskan, Indonesia bisa mencontoh Korea yang maju berkat investasi pendidikan. Pada 1950, bangsa Korea tidak berbeda jauh dengan Indonesia. Namun, melalui kerja keras dan investasi tinggi pada pendidikan terutama vokasi, saat ini Korea menjadi bangsa yang diperhitungkan dunia.

Dalam forum yang diikuti oleh delegasi perguruan tinggi negeri dan swasta se-Jawa Timur ini Nizam juga membahas program internasionalisasi yang saat ini sedang gencar dilakukan perguruan tinggi Indonesia. Menurut Nizam, internasionalisasi dapat
menjadi sarana bagi mahasiswa untuk menjadi global citizen yang tidak tercerabut dari akar kebangsaannya. Untuk mencapai hal itu, ada beberapa strategi yang perlu dijalankan, di antaranya pengenalan kehidupan multi kultural, membangun masyarakat
inklusif serta terbuka pada pergaulan internasional.

"Tiap negara memiliki strategi masing-masing dalam mengembangkan internasionalisasi pendidikan tingginya. Malaysia dan Vietnam mengundang kampus asing untuk membuka cabang di negara tersebut. Singapura melakukan benchmarking dengan top-notch universities. Sementara, China berpasangan dengan overseas universities," terang Nizam.

Nizam menambahkan, negara-negara yang tergabung dalam Anglo Saxon berpendapat, internasionalisasi adalah basis awal untuk menjadikan pendidikan sebagai komoditas sebagaimana terangkum dalam The General Agreement on Trade in Services (GATS). Indonesia serta 36 negara lainnya pun menyetujui konsep ini. Sementara, negara-negara Uni Eropa tidak setuju. Sebab menurut mereka, internasionalisasi pendidikan dilakukan dengan membahas standardisasi bersama melalui Bologna Process, yang bertujuan menjadikan pendidikan untuk menghasilkan kesejahteraan bersama.


SUMBER : OKEZONE.COM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar